khusnulk07's blog

Just another weblog

 

Penyebab Linu pada Gigi

 

Penyakit gigi dan mulut dapat berakibat fatal terhadap kesehatan seluruh tubuh jika tidak cepat ditanggulangi, terdapat banyak kejadian yang memperlihatkan adanya serangan jantung yang diakibatkan oleh penyebaran kuman penyakit gigi dan banyak penyakit sistemik lain yang menunjukkan adanya kontribusi kuman yang berasal dari gigi dan mulut.

Banyak masyarakat yang mengalami sakit gigi yang sangat tidak tertahankan dan sangat mengganggu aktivitas. Ada sebagian orang beranggapan bila sakit gigi ingin segera mencabut gigi, padahal hal ini tidak bisa dilakukan karena jaringan di sekitar gigi terinfeksi sehingga tidak bisa dilakukan pencabutan, ada juga masyarakat yang meredakan rasa sakit dengan meletakkan minyak cengkeh ke dalam lubang gigi tersebut, dan ada juga dengan berkumur-kumur daun sirih atau minum antibiotik, semua hal tersebut bagus dilakukan untuk tahap pertama menanggulangi sakit gigi. Sehingga, perlu informasi untuk mencegah sakit linu di gigi.

Secara dini, yang harus dilakukan orang dengan gigi sensitif adalah memakai pasta gigi dan obat kumur yang mengandung potassium citrate, zinc, triclosan, dan fluoride. Potassium citrate berfungsi mendepolarisasi saraf sehingga terjadi penurunan linu. Sedangkan zinc dan triclosan, selain menghilangkan plak dari permukaan gigi, punya kemampuan untuk membuat dentin menjadi tertutup (Triyono 2010).

Memilih bulu sikat yang baik, dan disertai teknis menggosok gigi yang baik: bulu sikat diletakkan agak miring dari gusi ke permukaan gigi. Kemudian gigi disikat dengan memutar sedikit sikat gigi dari arah gusi ke gigi. Lalu pilihlah bahan makanan yang bagus untuk gigi, yaitu yang mengandung kalsium, seperti susu dan keju. Usahakan makan buah yang berair, seperti pepaya, semangka, dan apel. Air ini untuk membersihkan gigi dari sisa makanan yang tertimbun. Jika semua faktor itu sudah dijalankan, tetapi gigi masih terasa linu, disarankan sebaiknya dilakukan penutupan gigi berlubang dengan menggunakan tambalan (Triyono 2010).

Jika gigi sensitif dibiarkan terus, gigi akan meradang, sehingga tidak bisa pulih ke keadaan normal. Akibatnya, gigi bisa mati, dan penderita akan terbelenggu–dari makanan sehat. Parahnya, daerah leher gigi yang terbuka atau bolong bisa saja dimasuki bakteri jahat dan menjalar ke organ tubuh lain. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit sistemik, seperti ginjal dan jantung (Triyono 2010).

Selain itu, terdapat tips-tips mencegah dan menanggulangi gigi sensitif, yaitu:

1. Jangan menggosok gigi dengan tekanan keras dan gerakan sikat gigi dari kiri ke kanan. Usahakan menyikat dari arah gusi ke gigi.

2. Gosok gigi pada waktu yang tepat, sekitar 20 menit setelah makan. Kurang dari itu, mulut masih dalam keadaan asam, sehingga penyikatan akan meruntuhkan email yang berperan sebagai pelindung gigi.

3. Pakai sikat gigi dengan bulu sikat lembut dan kepala sikat sesuai dengan ukuran mulut.

4. Hindari pemakaian sikat gigi yang bulu sikatnya sudah rusak, karena dapat melukai gusi.

5. Gunakan pasta gigi yang mengandung potassium citrate, zinc, triclosan, dan fluoride.

6. Hindari memakan makanan yang terlalu asam atau manis.

7. Hindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang memiliki perbedaan suhu ekstrem pada saat yang bersamaan.

8. Makan dengan gizi seimbang, juga kaya gandum murni serta buah dan sayur untuk meningkatkan produksi air liur.

9. Berkumur dengan menggunakan air putih setelah makan untuk membilas sisa makanan.

10. Cari solusi ke dokter gigi untuk menemukan penyebab utama keluhan gigi sensitif (Triyono 2010).

Terdapat prinsip perawatan gigi linu atau sensitif yang umumnya dibagi menjadi tiga yaitu:

1.Desensitasi saraf gigi (mengurangi sensitivitas saraf gigi). Misalnya dengan pasta gigi yang mengandung kalium nitrat.

2. Menutup tubulus dentin (tabung-tabung kecil yang menyusun dentin) dengan melakukan penambalan, pembuatan mahkota, dan bedah periodontal (transplantasi gusi).

3. Menyumbat tubulus dentin dengan menggunakan bahan-bahan seperti natrium fluorida, kalium oksalat, strontium klorida, dan glutaraldehid (Rahmadhan 2008).